Sekilang Tentang Dewi Sri

Sekilas Tentang Dewi SRI


Dewi Sri bagi orang jawa yang agraris mempunyai tempat tersendiri. Sangat dihormati. Sebelum panen padi biasanya kami mengadakan selamatan kecil-kecilan yang disebut dengan wiwitan yang berarti mulai. Mulai panen padi tentu saja. Menu selamatan ini agak spesial yaitu nasi menggono yang gurih. Jika keadaan ekonomi sedang baik, nasib salah satu ayam di kandang sedang tidak baik karena akan menjadi ingkung pelengkap prosesi wiwitan tersebut. Jangan ditanya betapa nikmatnya menyantap nasi mengono dengan lauk ayam yang dimasak ingkung dengan santan yang kental. Ayam itu masih dere artinya ayam jantan sudah besar tapi belum bisa disebut jago karena bulu ekornya belum keluar lacur atau bulu yang mengkilat dan melengkung panjang seperti ekor burung Cenderawasih. Apalagi makannya di tengah sawah yang sedang menguning. Dahsat dan sangat nikmat.

Prosesi penghormatan kepada Dewi Sri dalam acara wiwitan ini adalah ketika secara simbolik nenek saya memanen beberapa helai padi terbaik, kemudian diikat dan dihiasi dengan daun dadap serep yang sering digunakan sebagai obat demam. Segengam padi itu kemudian di bawa pulang dengan cara di pondong memakai selendang dari koleksi nenek yang terbagus. Dipondong adalah digendong dengan cara seperti seorang ibu mengendong bayinya yang ditaruh di depan dadanya. Tentu saja saya heran dan bertanya, kenapa? Kata nenek saya karena padi itu adalah Dewi Sri yang telah berkurban memberi kemakmuran kepada para petani. Sejak saat itu saya seperti terobsesi dengan Dewi Sri, betapa hebatnya wanita itu sampai mengorbankan dirinya untuk kehidupan rakyat banyak.

Dulu mbah Kakung saya bercerita bahwa padi itu penjelmaan atau pengorbanan Dewi Sri. Saya cari kembali riwayat Dewi Sri di buku-buku lama tentang wayang. Sangat menarik karena RM. Pranoedjoe Poespaningrat dalam bukunya “Nonton Wayang Dari Berbagai Pakeliran” menceritakan bahwa Dewi Sinta sebenarnya adalah penjelmaan Dewi Sri. Kisah Ramayana adalah sebuah cerita tentang kesetiaan seorang wanita yang luar biasa. Pengorbanan dan kesetiaan sepertinya identik dengan wanita. Dimanapun dan kapanpun dari dulu kala sekali sampai saat ini. Pengorbanan dan kesetiaan seolah berdampak sistemik pada wanita sepanjang masa disegala dimensi.

Awal kisahnya dimulai dari keinginan Rakwana sang penguasa angkara murka yang sangat ingin mempersunting Dewi Sri menjadi istrinya. Tentu saja ini cinta yang terlarang, karena Dewi Sri yang mempunyai nama lain Dewi Widowati adalah istri yang sah dari Dewa Wisnu. Dewa Wisnu dalam menjalankan tugas menjaga perdamaian dunia selalu menitis ke dalam manusia laki-laki yang harus beristrikan titisan Dewi Sri. Dalam Ensiklopedi Wayang Purwo ternyata Dewi Sri nantinya menitis pada Dewi Sinta yang nantinya harus menjadi istri titisan Wisnu saat itu yaitu Rama. Dewi Sri dan Dewa Wisnu setiap masa selalu menitis kepada manusia untuk menjaga perdamaian. Masalahnya Dewi Sinta ternyata terlahir dari Dewi Tarki istri Rakwana.

Saat istrinya melahirkan Rakwana sedang melampiaskan kegemarannya yaitu berperang meluaskan jajahan. Wibisana adik Rakwana yang mengetahui tabiat kakaknya sangat khawatir suatu saat nanti Dewi Sinta akan dikawini oleh bapak kandungnya yang seumur hidupnya mengejar-ngejar Dewi Widowati atau Dewi Sri. Betapa rusaknya dunia ini nantinya jika itu terjadi. Maka bayi Dewi Sinta dihanyutkan ke sungai yang kemudian ditemukan oleh Raja Janaka di kerajaan Matili. Sebagai gantinya Wibisana menganti bayi Dewi Sinta dengan bayi laki-laki yang diciptakan dari awan atau mega, makanya diberi nama Megananda yang lebih dikenal dengan Indrajit yang tidak kalah bengisnya dengan Rakwana.

Setelah dewasa Dewi Sinta oleh Raja Janaka dikawinkan dengan Rama yang berhasil memenangkan lomba mengangkat panah pusaka Kerajaan Matili. Di kerajaan Ayodya Raja Dasarata ayahanda Rama sedang bersedih karena telah terikat janji kepada istri ketiganya Dewi Kekayi bahwa keturunannya yang nanti akan menjadi raja. Sedangkan Rama adalah anak pertama dari permaisuri yang berhak atas warisan tahta menurut adat kebiasaan. Rama mengetahui kegelisahan Ramandanya, kemudian pergi ke hutan diikuti istri dan adik tirinya Lesmana. Selama tiga belas tahun Dewi Sinta menemani dan mengabdi kepada Rama dalam kehidupan yang sengsara di hutan. Sampai kemudian diculik oleh Rakwana. Selama dua belas tahun Dewi Sinta ditawan Rakwana dan terus menolak pinangannya. Kemudian Rama berhasil mengalahkan Rakwana dengan bantuan Anoman dan kera lainnya, kisah ini mungkin sudah tidak asing dengan sebagian besar kita.

Kisah kesangsian Rama atas kesucian Dewi Sinta juga sudah kita kenal dengan peristiwa Sinta Obong, dimana untuk membuktikan kesuciannya Dewi Sinta harus lolos dari panasnya kobaran api. Dewi Sinta lolos dalam ujian tersebut. Kemudian diboyong pulang ke Kerajaan Ayodya. Rama menjadi raja sedangkan Sinta menjadi permaisuri. Sebuah kisah yang romantis tentang kesetiaan istri atas suaminya. Tapi saya yakin tidak semua dari kita mengetahui akhir dari kisah kesetiaan ini.

Beberapa tahun kemudian setelah kisah keperkasaan Rama menaklukkan Rakwana menjadi cerita sehari-hari, beredar kasak-kusuk yang mengelisahkan hati Rama. Kabar yang terbawa angin bahwa rakyat sebenarnya masih menyangsikan kesucian Dewi Sinta selama di sekap oleh Rahwana selama dua belas tahun. Sewaktu peristiwa ‘Sinta Obong” dulu terjadi di Kerajaan Alengko. Tidak ada rakyatnya yang menyaksikan langsung, pantas jika mereka meragukan. Akan tetapi jika rakyatnya sudah tidak percaya lagi kedudukannya sebagai raja akan terancam. Dengan berat hati Rama minta Dewi Sinta sekali lagi membuktikan kesuciannya dalam sebuah ritual api korban di hadapan rakyatnya. Kesetiaan selalu diikuti dengan pengorbanan. Sinta tidak bisa menolak permintaan itu. Sekali lagi Sinta membuktikan kesuciannya ketika kobaran api tak mampu menyentuh tubuhnya.

Puaskah Rama dengan dua bukti kesucian Sinta istrinya yang setia dan rela mengorbankan apa saja? kasak-kusuk di kalangan rakyat masih belum reda. Hati Rama masih gundah. Dalam keadaan hamil tua Sinta di buang ke hutan dititipkan kepada Resi Walmiki. Di padepokan Resi Walmiki Sinta melahirkan bayi laki-laki kembar yang diberi nama Rama Batwala dan Rama Kusya. Kedua bayi itu diasuh oleh Resi Walmiki. Selama dalam pembuangan itu Sinta mengisahkan perjalanan hidupnya. Sebuah kisah yang luar biasa yang kemudian di tulis oleh Resi Walmiki menjadi kitab wiracarita Ramayana yang berarti Perjalanan Rama bukan Sintayana. Kitab itu ditulis dalam bentuk kidung atau syair nyanyian yang dalam khasanah budaya jawa di sebut dengan serat. Jumlah kidung itu hampir enam ratus bait. Kedua anak Rama menghapal dengan baik kidung itu, sampai suatu ketika nanti dibukukan dan menjadi kisah yang sampai sekarang masih di baca orang.

Beberapa tahun kemudian melihat kepandaian kedua anak kembarnya, Rama memanggilnya kembali ke istana. Keberadaan kembali Sinta di kerajaan memunculkan kasak-kusuk lagi di kalangan rakyat. Masalah kesucian dan kesetiaan Sinta dipergunjingkan. Kasak-kusuk itu akhirnya masuk juga ke istana. Rama kembali gelisah di atas kursi tahtanya. Sinta juga gamang hati adanya orang yang menghembuskan kasak-kusuk itu. Hati Rama semakin ragu-ragu, tapi kasak-kusuk itu semakin tak terkendali. Sekali lagi Rama minta kesediaan istrinya untuk berkorban demi kebaikan semua orang. Sinta heran dengan keraguan hati Rama yang bimbang terombang-ambing kasak-kusuk itu. Bukankah Rama cukup mengenal siapa Sinta yang sebenarnya. Rama juga bisa mengukur kesetiaan Sinta. Demi kesetiaan Sinta rela berkorban untuk terakhir kali “Kanda Prabu, dua kali kobaran api sudah membuktikan kesucian dan kesetiaan hamba dan masih dianggap belum cukup. Kali ini adalah yang terakhir, jika saya tidak suci atau tidak setia, maka bumi akan menolak saya.”

Tiba-tiba bumi terbelah, kemudian Dewi Pertiwi sebagai penguasa bumi keluar menjemput Dewi Sinta untuk diajak masuk ke dalam bumi. Beberapa saat kemudian bumi kembali menutup dan Dewi Sinta tidak lagi muncul. Bumi tidak menolaknya yang berarti Dewi Sinta masih suci dan setia sampai matinya. Dewi Sinta berkurban merelakan dirinya ditelan bumi dan menumbuhkan kesuburan. Sebagian orang jawa bahkan yakin Dewi Sinta atau Dewi Sri muncul sebagai padi sebagai sumber pangan kita. Rama sangat menyesal kemudian pergi ke hutan hidup menjadi pertapa setelah menyerahkan kerajaan kepada putranya.

Kesetiaan dan pengorbanan wanita seolah tidak mengenal dimensi dan waktu. Dari jaman dahulu kala, saat ini juga dimasa depan. Juga tidak terikat dimensi, bisa saja itu terjadi di keluarga, tempat kerja, negara, bangsa, dunia bahkan peradaban manusia selalu menempatkan wanita dalam kondisi harus setia dan siap berkorban, seperti Dewi Sri. Bukankah semua agama memuliakan wanita?

Untukmu, Sri.